Oleh: Tim Eksplorasi Budaya TRISDA (Teater Islam Datokarama)
Sulawesi Tengah telah lama diakui oleh para arkeolog dunia sebagai salah satu pusat peradaban megalitik (zaman batu besar) tertua dan terkaya di Nusantara. Di luar situs-situs populer yang berada di dataran tinggi Lore, jejak peradaban prasejarah yang tak kalah penting ternyata juga tersimpan di Desa Bangga, Kabupaten Sigi. Melalui kegiatan eksplorasi budaya yang dilaksanakan pada 3–5 April, organisasi TRISDA (Teater Islam Datokarama) berkesempatan mendokumentasikan situs cagar budaya megalitik di kawasan barat desa yang secara lokal dikenal dengan nama Belangata.

Belangata: Hipotesis Pusat Permukiman Kuno
Penemuan situs purbakala di Desa Bangga memberikan petunjuk kuat mengenai pola hidup masyarakat masa lampau di Lembah Kaili. Berdasarkan penuturan Adnan, juru pelihara situs yang merupakan generasi ketiga penjaga kawasan tersebut, lokasi penemuan batu-batu ini pada mulanya merupakan kawasan perkampungan tua peninggalan zaman batu.
Terdapat lebih dari 60 titik sebaran peninggalan bersejarah yang telah didata di kawasan Belangata. Tingginya konsentrasi artefak di satu lokasi ini memunculkan hipotesis bahwa Belangata kemungkinan besar merupakan pusat peradaban dan permukiman masyarakat kuno di masa lalu, sebelum akhirnya peradaban bergeser dan berkembang menjadi tatanan desa modern seperti sekarang.

Keterangan Foto: Wujud fisik Nonju Vatu (lesung batu), artefak prasejarah yang dulunya digunakan sebagai alat pemroses bahan pangan oleh masyarakat kuno Desa Bangga.
Teknologi Pangan Masa Lampau: Nonju Vatu dan Bailo
Benda cagar budaya paling dominan yang ditemukan di situs ini adalah peninggalan berupa Nonju Vatu (bahasa Kaili untuk "lesung batu") dan beberapa struktur batu datar. Keberadaan Nonju Vatu menjadi bukti tingginya pemahaman masyarakat prasejarah Desa Bangga terhadap teknologi pengolahan pangan tradisional.
Pada masanya, lesung batu ini bukan sekadar monumen mati, melainkan alat produksi vital yang digunakan sehari-hari untuk menumbuk bahan makanan pokok. Masyarakat kuno menggunakannya untuk memproses hasil bumi seperti jagung, padi ladang, dan sejenis biji-bijian serealia lokal yang ukurannya lebih kecil dari padi, yang oleh masyarakat setempat masa lampau disebut bailo.
Selain Nonju Vatu, struktur batu datar di sekitar situs juga menjadi objek penelitian yang menarik. Keterlibatan institusi akademik seperti Balai Arkeologi (Balar) Manado di masa lalu telah menghasilkan temuan penting lainnya di sekitar batu datar tersebut, yakni ditemukannya sisa-sisa pecahan piring dan guci kuno. Temuan arkeologis ini semakin mempertegas status Belangata sebagai pusat aktivitas rumah tangga dan komunal yang maju pada zamannya.

Konservasi Ekologis dan Perlindungan Cagar Budaya
Sebagai warisan kebudayaan yang dilindungi secara resmi oleh Undang-Undang Cagar Budaya, pemeliharaan situs megalitik Belangata dilakukan dengan prinsip konservasi yang sangat ketat. Petugas kebudayaan melakukan perawatan rutin setiap hari kerja, namun metode pembersihannya tidak boleh sembarangan.
Untuk menjaga integritas dan struktur pori-pori batu agar tidak lapuk atau rusak (aus), proses pembersihan lumut dari permukaan batu mutlak hanya menggunakan air murni. Penggunaan bahan kimia buatan seperti sabun mandi, sabun cuci piring, atau detergen dilarang keras, karena dinilai akan menghilangkan nilai keaslian dan merusak komposisi material batu prasejarah tersebut.
Selain perawatan fisik, situs ini juga memiliki regulasi tata krama yang ketat bagi pengunjung. Demi menghormati nilai historis dan menjaga kelestariannya, warga maupun peneliti dilarang keras untuk menduduki, menginjak, serta melakukan vandalisme (coret-coret) pada peninggalan tersebut.
Merawat Ingatan, Menjaga Peradaban
Keberadaan Nonju Vatu di Belangata adalah jendela edukasi yang tak ternilai harganya bagi generasi muda dan akademisi. Eksplorasi yang dilakukan oleh TRISDA menegaskan kembali bahwa Desa Bangga memegang peranan krusial dalam peta sejarah peradaban Sulawesi Tengah. Menjaga situs ini bukan sekadar mempertahankan batu-batu bisu, melainkan merawat ingatan kolektif tentang kecerdasan leluhur Lembah Kaili yang berhasil bertahan dan membangun peradabannya sejak ribuan tahun silam.
Diskusi
Silakan Masuk untuk ikut berdiskusi dalam lingkaran TRISDA.