Eksplorasi Budaya TRISDA di Desa Bangga

Andi Muhammad Yusuf Qadri
02 Aug 2026
Admin TRISDA
19 Kali Dilihat
WhatsApp
Kegiatan
Eksplorasi Budaya TRISDA di Desa Bangga

Oleh: Tim Eksplorasi Budaya TRISDA (Teater Islam Datokarama)

Kaya akan warisan peradaban masa lampau, Desa Bangga di Kabupaten Sigi menyimpan jejak sejarah panjang yang tak terpisahkan dari asal-usul kebudayaan di Lembah Kaili. Pada 3–5 April, organisasi TRISDA (Teater Islam Datokarama) melaksanakan kegiatan eksplorasi budaya secara langsung ke desa ini untuk mendokumentasikan nilai-nilai sejarah, situs megalitikum kuno, jejak awal masuknya Islam, serta ketahanan hukum adat yang hingga kini masih dipegang teguh oleh masyarakat setempat.

Asal-Usul Desa Bangga dan Mitos "Pitu Nggota"

Secara administratif, pencatatan sejarah Desa Bangga dimulai sekitar tahun 1928, dengan nama desa yang diambil dari keberadaan pohon lokal, yakni "Kayu Bangga". Namun, akar peradabannya jauh lebih tua dari era tersebut. Dalam memori kolektif masyarakat dan penuturan tetua adat, Desa Bangga diyakini sebagai wilayah tertua dan tonggak awal pembentukan konfederasi tujuh kawasan tua di Lembah Kaili yang dikenal dengan istilah Pitu Nggota.

Tokoh legendaris yang merintis peradaban di wilayah ini adalah seorang Magau (Ratu) perempuan pertama bernama Vumbulangi. Sejarah lokal mencatat kaitan mitologis antara Vumbulangi dan tokoh pelaut legendaris nusantara, Sawerigading. Narasi turun-temurun mengisahkan bahwa kawasan Lembah Kaili pada masa silam masih berupa lautan luas. Peristiwa surutnya air laut hingga membentuk dataran perkampungan Pitu Nggota (tersebar dari Bangga, Baluase, Pulu, Pesaku, Kaleke, hingga Dolo) menjadi latar belakang turunnya masyarakat pegunungan untuk bermukim dan membangun peradaban di dataran lembah.

 

Situs Megalitik dan Bukti Peradaban Zaman Batu

Bukti otentik kebudayaan kuno di Desa Bangga dapat disaksikan melalui situs cagar budaya megalitikum yang terletak di kawasan barat desa, atau yang secara lokal disebut Belangata. Berdasarkan keterangan juru pelihara situs, Adnan, artefak batu di lokasi ini merupakan peninggalan zaman batu yang jumlahnya tercatat lebih dari 60 titik.

Artefak utama yang ditemukan di situs ini meliputi Nonju Vatu (lesung batu) dan batu datar. Pada masa lampau, Nonju Vatu berfungsi sebagai alat pemroses makanan tradisional, seperti menumbuk jagung, padi ladang, serta biji-bijian serealia lokal yang dinamakan bailo. Penemuan pecahan keramik dan guci kuno di sekitar situs batu datar oleh Balai Arkeologi semakin memperkuat bukti bahwa kawasan Belangata merupakan salah satu pusat permukiman kuno yang penting.

Situs megalitik ini dilindungi oleh Undang-Undang Cagar Budaya serta pedoman adat setempat. Pemeliharaan fisik batu dilakukan sangat hati-hati hanya menggunakan air murni tanpa sabun atau bahan kimia demi menjaga struktur asli batu. Pengunjung maupun peneliti juga tunduk pada pantangan adat, seperti larangan menduduki, menginjak, atau melakukan perusakan (vandalisme) pada artefak bersejarah tersebut.

 

Makam Pue Bongo dan Jejak Masuknya Islam di Sumur Silamu

Selain menyimpan peninggalan prasejarah, Desa Bangga merupakan tonggak penting dalam penyebaran agama Islam di wilayah Sigi dan Lembah Palu. Tokoh sentral dalam sejarah keislaman di desa ini adalah Pue Bongo, gelar kehormatan bagi seorang bangsawan bernama asli Mbalawa Lemba. Gelar Pue Bongo (berasal dari kata Nambongo yang berarti tuli) disematkan karena keberanian beliau yang "menulikan telinga" dari ketakutan dan pantang mundur di medan perang. Garis keturunan Pue Bongo kelak berkembang menjadi marga-marga bangsawan (Madika/Magau) besar di Lembah Palu dan Sigi, seperti marga Lemba, Djanggola, Parampasi, Lagarutu, hingga Joyokodi.

Proses masuknya Islam di Desa Bangga memiliki ikatan erat dengan dakwah ulama besar penyebar Islam di Palu, Dato Karama. Ajaran Islam diperkenalkan ke lingkungan Kerajaan Bangga oleh utusan Dato Karama asal Sumatera bernama Maruk (atau disapa Sabanda). Setelah melalui pendekatan persuasif, Pue Bongo bersedia menerima Islam dan menyelaraskannya dengan adat setempat yang kala itu sangat kuat.

Prosesi pengislaman dan pengucapan syahadat Pue Bongo beserta tokoh raja Lembah Palu lainnya (seperti Pue Njidi) dilaksanakan di situs Sumur Silamu (Sumur Islam). Kini, Makam Pue Bongo dijaga secara turun-temurun oleh para juru kunci, berdampingan dengan makam pengikut dan istrinya. Dalam adab berziarah, pengunjung diwajibkan meminta izin (permisi) terlebih dahulu di makam Nenek Rapikada yang letaknya berada di depan gerbang masuk kompleks makam utama.

Eksistensi dan Supremasi Hukum Adat

Nilai kebudayaan dan etika sosial di Desa Bangga tetap terjaga berkat supremasi adat yang dijalankan secara sinergis oleh Tetua Adat (Totua Nu Ada), Sanggar Seni Garupa, dan Pemerintah Desa. Menurut Ketua Adat Desa Bangga, Ambo Umar, tatanan hukum adat telah dibukukan dengan jelas dan disidangkan di balai pertemuan adat (Baruga).

Hukum adat mengatur berbagai pelanggaran sosial yang dapat dikenakan danksi denda (Givu), yang dikelompokkan dalam beberapa istilah:

Sala Pale (salah perbuatan/tangan, seperti tindak kekerasan atau pencurian),

Sala Vivi (salah ucapan/mulut, seperti memfitnah atau salah bicara),

Sala Gada/Ngada (pelanggaran etika dan tata krama),

Sala Kono (pelanggaran asusila atau salah sentuh). Pada kasus berat seperti mengganggu martabat rumah tangga orang lain, pelaku dapat dijatuhi denda tertinggi berupa ternak sapi.

Di samping hukum denda, filosofi hidup warisan Pue Bongo juga meninggalkan tata krama sosial yang masih dipatuhi warga: seorang tamu laki-laki dilarang masuk ke dalam rumah apabila suami tuan rumah sedang tidak berada di tempat, guna menjaga martabat, kehormatan, dan kenyamanan lingkungan desa.

Eksplorasi budaya ke Desa Bangga memberikan wawasan mendalam bagi TRISDA bahwa desa ini bukan sekadar entitas geografis, melainkan pusat peradaban yang utuh. Keberadaan situs megalitikum zaman batu, sejarah keislaman di Sumur Silamu, makam Pue Bongo, serta kewibawaan hukum adat di Baruga menjadi bukti nyata bahwa integrasi antara kebudayaan tua, keaslian adat istiadat, dan nilai-nilai Islam mampu terus dijaga serta dilestarikan oleh masyarakatnya hingga hari ini.

Informasi Agenda: Seluruh rincian kegiatan di atas merupakan agenda resmi UKM Teater Islam Datokarama UIN Datokarama Palu. Pastikan Anda mengikuti kanal resmi kami untuk informasi perubahan jadwal atau lokasi kegiatan.
Umpan Balik

Bantu TRISDA makin enak dikunjungi

Kirim kritik, saran, atau apresiasi singkat untuk halaman ini.

Aksi & Pementasan

Kanal agenda ini memuat jadwal pementasan, masa penerimaan anggota (Maparu), hingga kegiatan gotong royong civitas TRISDA.